Amon: Marquis Ketujuh Ars Goetia

Ars Goetia — Mengenal 72 Spirits | Bagian 07

Seekor serigala berekor ular muncul dengan api yang menyembur dari mulutnya. Ketika diperintahkan, makhluk itu berubah menjadi sosok manusia dengan kepala menyerupai gagak dan gigi seperti anjing.

Begitulah Amon digambarkan dalam Ars Goetia.

Ia menempati urutan ketujuh dari 72 roh, bergelar Marquis, dan disebut memerintah 40 legiun. Menariknya, Amon dikaitkan dengan dua kemampuan yang saling bertentangan: menimbulkan perselisihan dan mendamaikan orang-orang yang bertikai.

Identitas Amon

  • Nama: Amon
  • Nama alternatif: Aamon
  • Urutan: 7 dari 72 Spirits
  • Gelar: Marquis
  • Legiun: 40 legiun roh
  • Penampilan: Serigala berekor ular yang menyemburkan api; dapat berubah menjadi manusia berkepala menyerupai gagak dengan gigi anjing
  • Karakter menurut Ars Goetia: Kuat dan sangat tegas atau keras
  • Kemampuan: Mengetahui masa lalu dan masa depan, menimbulkan perselisihan, serta mendamaikan pertikaian
  • Sumber klasik: Pseudomonarchia Daemonum dan Ars Goetia

Nama Amon sering dihubungkan dengan Amun, salah satu dewa penting dalam agama Mesir kuno. Amun dikenal sebagai dewa yang mempunyai kedudukan besar di Thebes. Dalam perkembangan keagamaan Mesir, ia juga dipadukan dengan Ra dan dikenal sebagai Amun-Ra.

Kemiripan nama Amon dan Amun memang menarik. Akan tetapi, Ars Goetia tidak menyatakan bahwa Amon merupakan Amun-Ra yang kemudian berubah menjadi demon.

Sosok Amon telah tercatat dalam Pseudomonarchia Daemonum karya Johann Weyer pada abad ke-16, sebelum muncul sebagai roh ketujuh dalam Ars Goetia.

Terdapat pula perbedaan keterangan kemampuan antara kedua sumber tersebut. Weyer mengaitkan Amon dengan pemberian dukungan atau keberpihakan (favour) serta perdamaian antara kawan dan lawan. Sementara itu, Ars Goetia menyebut kemampuannya menimbulkan perselisihan dan mendamaikan pertikaian.

Secara bentuk, wujud pertamanya menyerupai serigala dengan ekor ular dan api yang keluar dari mulut. Ketika mengambil bentuk manusia, kepalanya digambarkan menyerupai gagak, dengan gigi seperti anjing. Beberapa versi teks juga memberikan alternatif berupa manusia berkepala gagak.

Amon juga secara khusus disebut most stern. Istilah tersebut dapat dipahami sebagai sangat tegas, keras, atau tidak mudah dilunakkan.

Dalam praktik okultisme modern, sebagian orang menafsirkan Amon sebagai figur yang berkaitan dengan ketegasan, konflik, dan pemulihan hubungan. Namun, interpretasi tersebut perlu dibedakan dari keterangan klasik dan pengalaman personal yang tidak dapat diverifikasi secara objektif.

1. Mengetahui masa lalu dan masa depan

Amon disebut mampu menjelaskan hal-hal yang telah terjadi dan yang akan datang.

2. Menimbulkan perselisihan

Ars Goetia menyebut Amon mampu menyebabkan permusuhan atau pertikaian. Dalam pembacaan simbolik, kemampuan ini dapat dikaitkan dengan bagaimana ketidakpercayaan, prasangka, dan komunikasi yang buruk dapat memperbesar konflik.

3. Mendamaikan pertikaian

Kemampuan berikutnya justru merupakan kebalikan dari kemampuan sebelumnya. Amon disebut dapat mendamaikan perselisihan di antara teman. Dalam versi Weyer, cakupan perdamaian tersebut juga meliputi kawan dan lawan. Perbedaan ini memperlihatkan bagaimana satu figur dapat dikaitkan dengan konflik sekaligus penyelesaiannya.

Namun, kemampuan tersebut tidak boleh langsung diartikan sebagai jaminan untuk mengembalikan pasangan atau memaksa seseorang memperbaiki hubungan. Perdamaian dalam kehidupan nyata tetap membutuhkan komunikasi, kesediaan, dan persetujuan pihak-pihak yang terlibat.

Amon dikaitkan dengan perselisihan sekaligus perdamaian. Keduanya tampak bertentangan, tetapi sebenarnya dapat muncul dalam hubungan yang sama. Sebuah hubungan dapat rusak karena kesalahpahaman, tetapi juga dapat diperbaiki melalui komunikasi yang lebih terbuka. Namun, tidak semua konflik harus diselesaikan dengan mempertahankan hubungan. Terkadang, perdamaian berarti menemukan kesepakatan. Pada kesempatan lain, perdamaian justru berarti menerima bahwa dua orang perlu berjalan ke arah berbeda. Dalam pendekatan reflektif, Amon dapat menjadi simbol mengenai cara manusia menghadapi pertentangan.


Referensi

  1. Johann Weyer, Pseudomonarchia Daemonum, entri Amon atau Aamon.
  2. Lemegeton Clavicula Salomonis, bagian Ars Goetia, entri ketujuh.
  3. S. L. MacGregor Mathers dan Aleister Crowley, The Goetia: The Lesser Key of Solomon the King (1904).
  4. Joseph H. Peterson, The Lesser Key of Solomon: Lemegeton Clavicula Salomonis (2001).