Ars Goetia — Mengenal 72 Spirits | Bagian 02
Seorang lelaki tua duduk di atas punggung buaya. Pada tangannya bertengger seekor burung pemangsa, sementara wajahnya justru memperlihatkan ekspresi yang tenang.
Begitulah Agares digambarkan dalam tradisi demonologi Eropa.
Penampilannya mungkin tidak seintimidatif sosok demon yang biasa kita temukan dalam cerita-cerita populer. Namun, di balik sosok lelaki tua yang tampak lembut tersebut, Agares dikaitkan dengan sejumlah kemampuan yang cukup beragam: mengajarkan bahasa, mengembalikan orang yang melarikan diri, menjatuhkan kedudukan, hingga menyebabkan gempa bumi.
Agares menempati urutan kedua dalam Ars Goetia, bagian pertama dari Lemegeton atau The Lesser Key of Solomon.
Menariknya, Agares juga disebut pernah menjadi bagian dari Order of Virtues, salah satu tingkatan malaikat dalam hierarki Kristen. Lantas, siapakah Agares sebenarnya? Mengapa ia digambarkan menunggangi buaya? Bagaimana karakternya, dan apakah ia mempunyai hubungan dengan Bael, raja pertama Ars Goetia?
Identitas Agares
- Nama: Agares
- Nama alternatif: Agreas, Aguares
- Urutan: 2 dari 72 Spirits
- Gelar: Duke
- Wilayah kekuasaan: Timur
- Legiun: 31 legiun roh
- Penampilan: Lelaki tua berwajah lembut yang menunggangi buaya
- Hewan pendamping: Goshawk, sejenis burung pemangsa
- Kemampuan: Mengajarkan bahasa, menggerakkan orang yang diam, mengembalikan pelarian, menjatuhkan kedudukan, dan menyebabkan gempa bumi
- Ordo sebelumnya: Virtues, menurut Ars Goetia
- Sumber klasik: Pseudomonarchia Daemonum dan Ars Goetia
Dalam Ars Goetia, Agares diperkenalkan sebagai Duke yang berada di bawah kekuasaan timur. Ia memerintah 31 legiun roh, jumlah yang lebih sedikit dibandingkan Bael, yang disebut menguasai 66 legiun.
Namun, perbedaan jumlah legiun tersebut tidak cukup untuk menentukan siapa yang lebih kuat. Ars Goetia tidak menyediakan sistem pengukuran kekuatan yang memungkinkan setiap demon dibandingkan secara objektif.
Gelar Duke menunjukkan kedudukan Agares dalam hierarki tradisional, tetapi tidak secara otomatis menjelaskan kepribadian maupun hubungannya dengan seluruh roh lain.
Tidak seperti Bael, yang mempunyai hubungan nama dengan tradisi ketuhanan Semitik kuno, asal-usul nama Agares belum dapat dipastikan.
Nama Agares ditemukan dalam Pseudomonarchia Daemonum karya Johann Weyer pada abad ke-16. Sosok ini kemudian muncul kembali dalam Ars Goetia dengan deskripsi yang sangat mirip.
Dalam berbagai sumber, namanya juga ditulis sebagai Agreas atau Aguares. Agares juga memiliki jejak dalam tradisi katalog roh yang lebih tua daripada edisi Ars Goetia yang umum dikenal saat ini.
Hal ini menunjukkan bahwa sosoknya bukan ciptaan baru penulis abad ke-17, melainkan bagian dari perkembangan tradisi demonologi yang berlangsung selama beberapa generasi.
Namun, tidak ditemukan biografi kuno yang menjelaskan tempat kelahiran, keluarga, atau kehidupan Agares sebelum menjadi bagian dari katalog demon.
Karena itu, kisah asal-usul Agares perlu dibedakan dari berbagai cerita modern yang mencoba melengkapi kehidupan pribadinya.
Salah satu keterangan paling menarik dalam Ars Goetia adalah pernyataan bahwa Agares dahulu berasal dari Order of Virtues.
Dalam angelologi Kristen, Virtues merupakan salah satu dari sembilan tingkatan malaikat yang dikenal melalui tradisi Pseudo-Dionysius.
Hierarki tersebut biasanya dibagi menjadi tiga kelompok besar, dengan masing-masing kelompok terdiri atas tiga tingkatan. Virtues berada dalam kelompok kedua, bersama Dominions dan Powers.
Dalam tradisi teologis, Virtues sering dikaitkan dengan pelaksanaan kuasa ilahi, keteraturan kosmis, dan mukjizat.
Lalu, apakah Agares benar-benar pernah menjadi malaikat?
Ars Goetia memang mengaitkannya dengan Order of Virtues. Namun, teks tersebut tidak menjelaskan kapan ia jatuh, apa penyebab kejatuhannya, atau bagaimana hubungannya dengan pemberontakan malaikat yang dikenal dalam berbagai tradisi Kristen.
Kita juga tidak menemukan kisah terperinci tentang kehidupan Agares selama menjadi bagian dari Virtues.
Dengan demikian, penyebutan ordo tersebut merupakan bagian dari identitas demonologis Agares, bukan bukti historis bahwa suatu entitas supernatural pernah mengalami kejatuhan dari surga.
Penampilan Agares merupakan salah satu yang paling mudah dikenali dalam Ars Goetia. Ia digambarkan sebagai lelaki tua yang tampak baik atau lembut, menunggangi seekor buaya, dengan burung goshawk bertengger pada tangannya.
Gambaran ini cukup unik. Buaya merupakan hewan yang sering diasosiasikan dengan kekuatan fisik dan bahaya. Sementara itu, goshawk adalah burung pemangsa yang dikenal karena ketajaman penglihatan dan kemampuannya berburu.
Di antara kedua hewan tersebut, Agares justru digambarkan sebagai sosok yang tenang.
Ada sebuah interpretasi, buaya merupakan predator yang mampu bergerak di air maupun daratan. Hewan ini dapat terlihat diam dalam waktu lama, tetapi mampu bergerak dengan cepat ketika diperlukan. Karakteristik tersebut dapat dikaitkan secara simbolik dengan salah satu kemampuan Agares: menggerakkan orang yang diam dan mengembalikan mereka yang melarikan diri.
Sedangkan goshawk merupakan burung pemangsa dari kelompok elang-alap yang mempunyai kemampuan berburu dengan penglihatan tajam.
Dalam tradisi falconry atau seni berburu menggunakan burung pemangsa, goshawk dikenal sebagai burung yang dapat dilatih untuk mengejar mangsa.
Gambaran burung yang bertengger pada tangan Agares dapat mengingatkan kita pada hubungan antara seorang pemburu dan burung terlatihnya.
Jika dibaca secara simbolik, burung tersebut dapat dikaitkan dengan pengawasan, pencarian, dan pengendalian gerak.
Tetapi yang perlu diperhatikan di sini, Ars Goetia tidak secara langsung menjelaskan bahwa goshawk melambangkan kemampuan Agares menemukan pelarian.
Berbeda dengan Bael, deskripsi klasik Agares memberikan satu petunjuk yang cukup jelas mengenai penampilannya. Ia disebut memiliki kesan yang lembut atau mild in appearance. Keterangan ini penting karena tidak semua roh dalam Ars Goetia digambarkan mempunyai penampilan yang tenang.
Kemampuannya mengajarkan berbagai bahasa dapat memberi kesan bahwa Agares mempunyai pengetahuan luas.
Namun, kemampuan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa ia bijaksana secara moral. Pengetahuan dan kebijaksanaan merupakan dua hal yang berbeda.
Seseorang dapat menguasai banyak bahasa tanpa selalu mempunyai pertimbangan etis yang baik.
Dalam konteks demonologi, kemampuan Agares lebih tepat dipahami sebagai wilayah kekuasaan yang dikaitkan dengannya, bukan bukti langsung mengenai kualitas kepribadiannya.
Dalam Ars Goetia, Agares dikaitkan dengan kemampuan menyebabkan gempa bumi dan menjatuhkan kedudukan seseorang. Kedua kemampuan tersebut mempunyai konsekuensi yang serius apabila dipahami secara harfiah.
Namun, teks tidak menjelaskan bahwa Agares selalu menggunakan kemampuannya untuk mencelakai manusia. Sebaliknya, kita juga tidak mempunyai dasar untuk menganggapnya sebagai entitas yang selalu membantu atau melindungi.
Gambaran Agares dalam grimoire memperlihatkan perpaduan antara kemampuan yang dapat dianggap bermanfaat dan kemampuan yang bersifat merusak.
Agares mempunyai beberapa kemampuan utama yang tercatat dalam teks klasik.
1. Mengajarkan seluruh bahasa
Salah satu kemampuan paling terkenal dari Agares adalah mengajarkan bahasa atau tongues. Ars Goetia menggambarkan kemampuan tersebut sebagai sesuatu yang dapat diberikan dengan segera, saat itu juga. Dalam tradisi grimoire, kemampuan ini merupakan klaim supernatural.
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa juga memungkinkan manusia memahami kebudayaan, menyampaikan gagasan, dan membangun hubungan dengan orang lain.
Dalam pembacaan simbolik, Agares dapat dikaitkan dengan kemampuan memahami sesuatu yang sebelumnya terasa asing.
2. Menggerakkan orang yang diam
Ars Goetia menyatakan bahwa Agares dapat membuat mereka yang diam atau tidak bergerak menjadi berlari. Kemampuan ini terdengar sederhana, tetapi mempunyai makna yang cukup luas apabila dibandingkan dengan kemampuan berikutnya.
Agares tidak hanya dikaitkan dengan gerakan, tetapi juga dengan perubahan keadaan seseorang dari diam menjadi bergerak.
Dalam interpretasi simbolik, kemampuan ini dapat dibaca sebagai dorongan untuk keluar dari stagnasi.
3. Mengembalikan orang yang melarikan diri
Agares juga disebut mampu mengembalikan mereka yang telah melarikan diri. Dalam konteks sejarah Eropa, istilah pelarian dapat berkaitan dengan berbagai situasi sosial, termasuk seseorang yang meninggalkan kewajiban, tempat tinggal, atau hubungan kekuasaan tertentu.
Kita perlu berhati-hati agar tidak langsung menerjemahkan kemampuan ini sebagai kekuatan untuk mengembalikan pasangan atau memaksa seseorang kembali untuk mencintai.
Secara simbolik, kemampuan mengembalikan pelarian dapat membuka pembahasan mengenai kehilangan, keterikatan, dan keinginan manusia untuk mengendalikan sesuatu yang telah pergi.
Namun, dalam kehidupan nyata, kebebasan dan persetujuan orang lain tetap perlu dihormati.
4. Menjatuhkan kedudukan spiritual dan duniawi
Agares disebut mempunyai kemampuan menghancurkan atau menjatuhkan dignities, baik yang bersifat spiritual maupun temporal.
Dalam konteks historis, dignities dapat merujuk pada jabatan, kehormatan, pangkat, atau kedudukan yang diakui oleh lembaga tertentu. Kedudukan spiritual dapat berkaitan dengan otoritas keagamaan, sedangkan kedudukan temporal berhubungan dengan kekuasaan duniawi.
Dengan demikian, kemampuan ini lebih dekat dengan penurunan status atau otoritas daripada sekadar membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri.
Dalam pendekatan simbolik, kita dapat menghubungkannya dengan rapuhnya kekuasaan dan status sosial.
5. Menyebabkan gempa bumi
Kemampuan terakhir yang terkenal dari Agares adalah menyebabkan gempa bumi. Tapi tidak ada bukti ilmiah bahwa gempa bumi dapat disebabkan oleh demon. Secara geologis, gempa bumi terjadi melalui proses fisik, terutama pergerakan dan pelepasan energi dalam kerak bumi.
Namun, dalam simbolisme, gempa bumi dapat mewakili perubahan besar yang mengguncang struktur yang sebelumnya dianggap stabil.
Jika kemampuan Agares untuk menjatuhkan kedudukan dikaitkan dengan perubahan dalam struktur sosial, maka gempa bumi dapat dibaca sebagai gambaran perubahan dalam struktur fisik.
Keduanya memperlihatkan tema yang serupa: sesuatu yang tampak kokoh ternyata dapat berubah.
Vassago, roh ketiga dalam Ars Goetia, disebut mempunyai sifat atau hakikat yang sama dengan Agares. Teks juga menggambarkan Vassago sebagai roh yang mempunyai sifat baik.
Ada sesuatu yang menarik ketika kita memperhatikan seluruh kemampuan Agares. Ia mengajarkan bahasa, menggerakkan mereka yang diam, mengembalikan yang pergi, menjatuhkan kedudukan, dan mengguncang bumi.
Sekilas, kemampuan-kemampuan tersebut tampak tidak saling berhubungan. Namun, jika dibaca secara simbolik, kita dapat menemukan tema perubahan dan pergerakan. Bahasa memungkinkan manusia berpindah dari ketidaktahuan menuju pemahaman. Gerakan mengubah keadaan yang sebelumnya diam. Kembalinya seseorang mengubah keadaan yang sebelumnya terpisah. Jatuhnya kedudukan mengubah struktur kekuasaan. Sementara gempa bumi menggambarkan perubahan yang dapat terjadi bahkan pada sesuatu yang terlihat kokoh.
Dari sudut pandang reflektif, Agares dapat digunakan sebagai simbol untuk mempertanyakan hubungan manusia dengan perubahan. Kita sering menginginkan perubahan ketika keadaan terasa tidak nyaman. Namun, pada saat yang sama, kita juga dapat takut kehilangan sesuatu yang telah dikenal.
Ada kalanya kita ingin seseorang kembali, padahal orang tersebut telah memilih jalan berbeda. Ada pula saat ketika kita mempertahankan kedudukan atau identitas tertentu hanya karena takut menghadapi kehidupan tanpa keduanya.
Referensi
- Johann Weyer, Pseudomonarchia Daemonum, entri Agares.
- Lemegeton Clavicula Salomonis, bagian Ars Goetia, entri kedua.
- S. L. MacGregor Mathers dan Aleister Crowley, The Goetia: The Lesser Key of Solomon the King (1904).
- Joseph H. Peterson, The Lesser Key of Solomon: Lemegeton Clavicula Salomonis (2001).
- Tradisi angelologi Pseudo-Dionysius, The Celestial Hierarchy, untuk pembahasan Order of Virtues.
Catatan: Artikel ini merupakan kajian sejarah, demonologi, dan interpretasi simbolik. Kemampuan supernatural yang disebutkan berasal dari tradisi grimoire dan tidak dimaksudkan sebagai fakta ilmiah yang telah terbukti.

